Liturgical Calendar

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA PERINGATAN ARWAH PAUS BENEDIKTUS XVI SERTA PARA KARDINAL DAN PARA USKUP YANG MENINGGAL DALAM SETAHUN TERAKHIR 3 November 2023 : BELAS KASIHAN DAN KERENDAHAN HATI

Bacaan Ekaristi : Ayb 19:1,23-27a; Rm 5:17-21; Luk 7:11-17.

 

Yesus akan memasuki kota Nain; para murid dan “orang banyak yang berbondong-bondong" pergi bersama Dia (bdk. Luk 7:11). Saat Ia mendekati pintu gerbang kota, arak-arakan lain sedang dilakukan, tetapi dengan arah berlawanan : arak-arakan tersebut akan menguburkan anak tunggal seorang ibu yang sudah menjanda. Bacaan Injil memberitahu kita bahwa, “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13). Yesus melihat apa yang terjadi dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Benediktus XVI, yang kita peringati hari ini, bersama dengan para kardinal dan para uskup yang meninggal dalam setahun terakhir, menulis dalam dnsiklik pertamanya bahwa program Yesus adalah “hati yang melihat” (Deus Caritas Est, 31). Berapa kali beliau mengingatkan kita iman pada dasarnya bukanlah sebuah gagasan yang harus dipahami atau sebuah aturan moral yang harus diikuti, tetapi sesosok pribadi yang harus dijumpai. Pribadi tersebut adalah Yesus Kristus, yang hati-Nya berdebar karena mengasihi kita, yang mata-Nya memandang iba penderitaan kita.

 

Tuhan berhenti di hadapan tragedi kematian. Penting untuk dicatat bahwa inilah pertama kalinya Injil Lukas menyebut Yesus “Tuhan” : “tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasihan”. Ia disebut Tuhan – Allah yang menjalankan kekuasaan atas segala sesuatu – karena Ia menunjukkan belas kasihan kepada seorang ibu yang menjanda yang kehilangan, bersamaan dengan putra tunggalnya, alasan untuk hidup. Di sini kita melihat Allah kita, yang keilahiannya bersinar saat kita merasakan duka dan duka, karena hati-Nya penuh belas kasihan. Kebangkitan pemuda itu, karunia kehidupan yang mengalahkan kematian, bersumber tepat di sana, dalam belas kasihan Tuhan, yang tergerak oleh kematian, penyebab terbesar penderitaan kita. Betapa pentingnya menyampaikan juga rasa belas kasih kepada semua orang yang berduka atas kematian orang-orang yang mereka cintai!

 

Belas kasihan Yesus nyata. Bacaan Injil memberitahu kita bahwa “sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya” (bdk. Luk 7:14). Ia tidak perlu melakukan hal itu, dan bagaimanapun juga, pada masa itu, menyentuh jenazah orang yang sudah meninggal dianggap najis, menajiskan orang yang melakukannya. Tetapi Yesus tidak peduli akan hal itu; belas kasihan-Nya membuat-Nya menjangkau semua orang yang menderita. Itulah “gaya” Allah, "gaya" kedekatan, kasih sayang, dan kelembutan. Dan satu dari sedikit kata. Kristus tidak mulai berkhotbah tentang kematian, tetapi sekadar memberitahu ibu pemuda tersebut : “Jangan menangis!” (Luk 7:13). Mengapa? Apakah menangis itu salah? Tidak, Yesus sendiri menangis dalam keempat Injil. Ia berkata kepada ibunya, “Jangan menangis”, karena bersama Tuhan air mata tidak bertahan selamanya; air mata memiliki kesudahan. Yesus adalah Allah yang, seperti dinubuatkan Kitab Suci, akan “menelan maut” dan “menghapuskan air mata dari semua muka” (Yes 25:8; bdk. Why 21:4). Ia telah menghapuskan air mata kita dengan menjadikan air mata-Nya.

 

Di sini, kita melihat belas kasihan Tuhan, yang menuntun-Nya untuk membangkitkan anak laki-laki itu. Tetapi di sini, tidak seperti mukjizat lain yang dilakukan-Nya, Yesus tidak terlebih dahulu meminta sang ibu untuk beriman. Mengapa mukjizat yang luar biasa dan tidak biasa ini terjadi? Karena mukjizat tersebut ada hubungannya dengan anak yatim dan janda, mereka yang menurut Kitab Suci, dan juga orang asing, dianggap paling kesepian dan terlantar, tidak punya siapa pun yang bisa dipercaya selain Allah. Janda, anak yatim, orang asing : inilah orang-orang yang paling dekat dan berkenan kepada Allah. Kita tidak bisa dekat dan berkenan kepada Allah jika kita mengabaikan mereka yang menikmati perlindungan dan kasih-Nya yang istimewa, karena suatu hari nanti merekalah yang akan menyambut kita di surga : janda, anak yatim, orang asing.

 

Dengan juga mempertimbangkan hal-hal tersebut, kita menemukan poin penting lainnya, yang akan saya rangkum menjadi kata kedua hari ini : kerendahan hati. Sebab anak yatim dan janda adalah orang-orang yang “rendah hati” yang paling unggul : mereka yang meletakkan seluruh pengharapan mereka pada Tuhan dan bukan pada diri mereka, telah menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan mereka. Mereka tidak lagi mengandalkan kekuatan mereka sendiri, tetapi Dia dan perhatian-Nya yang tiada henti. Dengan menolak segala anggapan bahwa mereka bisa mencukupi diri sendiri, mereka menyadari membutuhkan Allah dan meletakkan kepercayaan mereka kepada-Nya. Orang-orang yang rendah hati, yang miskin di hadapan Allah, yang mengungkapkan kepada kita “kekecilan” yang sangat berkenan kepada Tuhan, jalan yang menuntun ke surga. Allah mencari orang-orang yang rendah hati, yaitu orang-orang yang berharap kepada-Nya serta bukan pada diri dan rencana mereka. Saudara-saudari terkasih, inilah kerendahan hati Kristiani, yang bukan sekadar keutamaan di antara keutamaan-keutamaan lain, tetapi sifat dasar kehidupan : meyakini diri kita membutuhkan Allah, memberikan ruang bagi-Nya dan meletakkan segenap kepercayaan kita pada-Nya. Inilah kerendahan hati Kristiani.

 

Allah berkenan terhadap kerendahan hati karena kerendahan hati memungkinkan-Nya berinteraksi dengan kita. Terlebih lagi, Allah berkenan terhadap kerendahan hati karena Ia sendiri rendah hati. Ia datang kepada kita; Ia merendahkan diri-Nya; Ia tidak memaksakan diri-Nya; Ia memberi ruang kepada kita. Allah tidak hanya rendah hati; Ia adalah kerendahan hati itu sendiri. “Tuhan, Engkaulah kerendahan hati” adalah doa Santo Fransiskus dari Asisi (bdk. Lodi: FF 261). Kita berpikir tentang Bapa, yang nama-Nya sepenuhnya mengacu pada Putra, bukan pada diri-Nya sendiri, dan tentang Putra, yang nama-Nya sepenuhnya berhubungan dengan Bapa. Allah mengasihi mereka yang tidak menempatkan diri mereka sebagai pusat: orang yang rendah hati, yang paling mirip dengan-Nya. Itulah sebabnya, sebagaimana dikatakan Yesus, “Sebab siapa yang meninggikan diri, akan direndahkan” (Luk 14:11). Saya ingin mengingat kata-kata pertama yang diucapkan Paus Benediktus tentang dirinya setelah beliau terpilih : “seorang pekerja yang rendah hati di kebun anggur Tuhan”. Memang benar, umat Kristiani, khususnya Paus, para kardinal dan para uskup, dipanggil untuk menjadi pekerja yang rendah hati: melayani, bukan dilayani dan mengutamakan hasil kebun anggur Tuhan di atas keuntungan pribadi mereka. Menyerahkan diri kita demi Gereja Yesus sungguh merupakan suatu hal yang baik!

 

Saudara-saudari, marilah kita memohon kepada Allah agar memberi kita tatapan penuh kasih dan kerendahan hati. Semoga kita tidak pernah bosan mengajukan hal ini, karena melalui belas kasihan dan kerendahan hati Tuhan memberikan kepada kita nyawa-Nya, yang mengatasi maut. Marilah kita mendoakan saudara-saudara kita tercinta yang telah meninggal dunia. Hati mereka bersifat pastoral, penuh kasih sayang dan rendah hati, karena Tuhan adalah pusat kehidupan mereka. Di dalam Dia semoga mereka menemukan kedamaian abadi. Semoga mereka bersukacita bersama Maria, yang ditinggikan Tuhan yang melihat kerendahan hatinya (bdk. Luk 1:48).

____

(Peter Suriadi - Bogor, 3 November 2023)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.